Menu

BAB penyelenggaraan sekolah-sekolah didalam naungannya yakni SMA

BAB  I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

1.1       Latar
Belakang Masalah

 

          Yayasan Perguruan Kristen
(YPK) Pusat Salatiga adalah sebuah yayasan swasta yang bergerak dalam dunia
pendidikan dengan visi,
misi dan kebijakan internal sebagai acuan bagi penyelenggaraan sekolah-sekolah didalam
naungannya yakni SMA Kristen 1 Salatiga, SMA Kristen 2 Salatiga, SMP
Kristen 1 Salatiga, SD Kristen 1 Salatiga dan  SD Kristen Ngampin, Kabupaten Semarang.
Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga menerapkan kebijakan desentralisasi dalam pengelolaan
sekolah-sekolahnya artinya secara konseptual memberikan kewenangan
kebijakan pada aspek
pendanaan dan pemberian kewenangan menejemen
yang lebih besar di tingkat sekolah. Sekolah-sekolah tersebut harus mampu merencanakan, mencari sumber-sumber
dana, mengelola, membiayai, meningkatkan dan mengembangkan kualitas sekolah
masing-masing secara mandiri. Dengan demikan sekolah memiliki keleluasaan yang cukup
luas dalam mengelola sekolahnya termasuk didalamnya perihal menejemen keuangan.
Yayasan
Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga lebih berperan sebagai ‘payung hukum’ eksistensi sekolah.

          Pengamatan
sementara dari peneliti, sekolah-sekolah tersebut
memiliki keberagaman dalam hal menejemen dan kemampuan
finansial (keuangan). Di antara sekolah-sekolah
tersebut hanya
SMA Kristen 1 Salatiga yang lebih mampu mandiri secara finansial (keuangan).
Ini berarti sekolah yang lain khususnya SMA Kristen 2 Salatiga
dalam kondisi yang belum mandiri secara ideal terutama dalam hal keuangan contohnya adalah besaran gaji guru dan karyawan yang
tidak sesuai dengan standar gaji pada umumnya (pemerintah), pengembangan sarana dan prasarana sekolah yang tidak optimal,
pemenuhan kebutuhan operasional sekolah maupun kesejahteraan guru dan karyawan yang
tidak ideal dan lain-lain.

          Kondisi
dan menejemen keuangan sekolah yang kurang memadai akan memiliki pengaruh yang
signifikan bagi pengembangan dan peningkatan mutu sekolah dan jika sekolah
kurang dapat meningkatkan mutunya atau tidak mampu memberikan daya tarik
terhadap masyarakat, maka pada gilirannya akan sangat berpengaruh pada
eksistensi dan keberlanjutan sekolah tersebut. Hal ini
sudah mulai terjadi pada SMA Kristen 2 Salatiga yang akhirnya harus melakukan merjer
dengan SMA Kristen 1 Salatiga untuk menutupi kekurangan pembiayaan
pendidikannya.

          Melihat kenyataan di atas maka evaluasi terhadap kebijakan desentralisasi
pada Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga ini sangat perlu dan mendesak
karena terdapat indikator adanya kesenjangan antara tujuan yang diharapkan dari
kebijakan desentralisasi yakni kemandirian sekolah dengan kenyataan di lapangan
dimana sebagian besar sekolah di atas dan khususnya SMA Kristen 2 Salatiga
tidak mampu mewujudkan tujuan kemandirian tersebut. Ini berarti kebijakan
desentralisasi telah mengancam eksistensi sekolah dan jika terjadi semacam
pembiaran, maka tidak menutup kemungkinan akan terulang kembali sekolah-sekolah
dalam naungan Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga tutup akibat
dampak dari kebijakan desentralisasi tersebut.

          Evaluasi
terhadap suatu kebijakan adalah sebuah keniscayaan. Dengan evaluasi, dapat
diketahui seberapa efektif dan efisiennya implementasi dari suatu kebijakan.
Dari hasil evaluasi juga dapat diketahui apakah suatu kebijakan itu berhasil
atau gagal. Dari sini pula dapat ditelusuri sejauh mana dampak dari suatu
kebijakan baik terhadap sasaran, obyek, pelaksana kebijakan maupun bagi subyek
atau pembuat kebijakan yang pada gilirannya nanti dapat dijadikan masukan atau
umpan balik bagi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan lain sebagainya bagi
langkah-langkah penetapan kebijakan-kebijakan berikutnya. Oleh karena itu
segala sesuatu yang menyangkut kebijakan haruslah dipertimbangkan dan
diantisipasi secara matang baik hal-hal yang menyangkut isi kebijakan, petunjuk
pelaksanaan dan petunjuk teknisnya (juklak juknis), sosialisasi, pendampingan,
pelaporan, antisipasi dan solusi terhadap berhasil dan tidak berhasilnya
kebijakan dan lain sebagainya.

          Untuk mengetahui
kesenjangan antara tujuan kebijakan desentralisasi tersebut dengan kenyataan
yang terjadi pada SMA Kristen 2 Salatiga penting di lakukan evaluasi. Atas dasar hal itulah peneliti melakukan
evaluasi dengan menggunakan model evaluasi berbasis tujuan (goal based evaluation model) yang
diperkenalkan oleh Ralph Winfred Tyler (1949). Di sisi lain penelitian evaluatif berdasarkan Goal Base Evaluation Model  terhadap kebijakan desentralisasi Yayasan
Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga belum pernah dilakukan.

 

1.2      
Rumusan Masalah

 

 

Berdasarkan
uraian dari latar belakang masalah di
atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Bagaimanakah kebijakan desentralisasi menejemen
keuangan Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga pada SMA Kristen 2
Salatiga?”.

Untuk menjawab permasalahan di atas,
maka diajukan beberapa pertanyaan:

Bagaimanakah pencapaian tujuan kebijakan desentralisasi menejemen keuangan Yayasan Perguruan Kristen (YPK)
Pusat Salatiga pada SMA Kristen 2 Salatiga?Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi implementasi kebijakan desentralisasi menejemen
keuangan Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga pada SMA Kristen 2
Salatiga? Bagaimanakah rekomendasi untuk kebijakan desentralisasi menejemen
keuangan Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga pada SMA Kristen 2
Salatiga?

 

1.3       Tujuan
Penelitian

 

 

    Tujuan penelitian adalah:

Mengevaluasi pencapaian tujuan
kebijakan desentralisasi menejemen keuangan Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga pada SMA Kristen 2 Salatiga.Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan desentralisasi menejemen
keuangan Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga pada SMA Kristen 2
Salatiga.Memberikan
rekomendasi terhadap kebijakan desentralisasi menejemen keuangan Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat
Salatiga pada SMA Kristen 2 Salatiga.

 

 

 

 

 

1.4      
Manfaat Penelitian

 

 

Manfaat
teoritis

          Hasil
penelitian evaluatif deskriptif 
berdasarkan model evaluasi berbasis tujuan (goal based evaluation model) ini diharapkan dapat memberikan
kontribuasi pengetahuan dan juga wawasan tentang berhasil
atau tidaknya tujuan dari kebijakan desentralisasi menejemen keuangan Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga
pada SMA Kristen 2 Salatiga.

 

Manfaat
praktis

          Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis
berupa masukan, referensi dan bahan kajian
lebih jauh bagi Yayasan Perguruan Kristen (YPK) Pusat Salatiga sebagai pembuat
kebijakan desentralisasi yang akan diimplementasikan pada
sekolah-sekolah didalam naungannya dan secara khusus bagi SMA Kristen 2
Salatiga dalam hal kebijakan menejemen keuangan.

x

Hi!
I'm Viola!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out